Hama yang sering diternukan di areal penanaman bawang daun antara lain ulat tanah (Agrotis ipsilon). Hama ini bisa membuat tanaman rebah, pangkal batang yang diserang akan memperlihatkan bekas gigitannya. Bisa juga batang sampai terpotong hingga putus. Selain itu dapat juga ditemukan gejala gerigitan yang menyebabkan daun-daun berlubang disebabkan oleh larva Spodoptera eksigua famili Noctuidae yang merupakan hama utama pada tanaman ini. Saat tanaman masih kecil imagonya meletakkan telur di daun, dan ulatnya yang menetas memakan daun terutama dari bagian pinggir dan bawah. Terdapat juga gejala korokan linier oleh larva liriomyza, gerigitan pangkal batang oleh kepinding tanah pada masa vegetatif. Disamping itu terdapat juga imago pentatomidae, dan juga imago coccinelidae. Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida sesuai aturannya ataupun dengan mengatur pola tanam tanaman tersebut.

Benih atau bibit Bawang daun bisa diperbanyak lewat biji maupun tunas anakan. Umumnya petani Indonesia menggunakan setek tunas. Caranya dengan memisahkan anakan dari induknya. Pilihlah induk yang sehat dan bagus pertumbuhannya. Tetapi untuk jenis bawang daun impor bibit yang digunakan adalah dari biji yang dibeli di toko pertanian. Umumnya jenis bawang daun introduksi ini tergolong hibrida yang memang tak baik diperbanyak dengan tunas anakan atau dari biji hasil penanaman sendiri.

Kelemahan bibit asal biji ialah panen bisa lebih lama l bulan daripada dengan bibit asal tunas anakan. Kebutuhan setek untuk 1 ha areal penanaman bawang daun ialah 200.000 setek. Benih asal biji kebutuhannya sebanyak 1,5-2 kg/ha. Bibit asal setek anakan bisa langsung ditanam ke lahan. Akan tetapi, terlebih dahulu kurangi perakaran dan potong sebagian daun untuk mengurangi penguapan. Apabila menggunakan biji, lakukan persemaian untuk mendapatkan bibit. Caranya, cangkul tanah persemaian sampai gembur. Tambahkan pupuk kandang sepertiga bagian lapisan olah. Kemudian taburkan benih secara merata, tak perlu dalam cukup 0,5-1 cm dari permukaan tanah. Tutupi dengan lapisan tanah tipis-tipis. Seminggu kemudian bibit tumbuh. Biarkan hmgga memiliki 2 atau 3 helai daun, baru dipindah ke lahan, Penanaman bawang daun memerlukan daerah perakaran yang gembur. Jadi sebaiknya tanah dicangkul dahulu sedalam 30-10 cm. Tambahkan pupuk kandang. Buat bedengan selebar 1,5-2 m. Panjangnya sesuai kondisi lahan. Antar bedengan dibuat parit sedalam 25-30 cm dengan lebar sekitar 30 cm. Gunakan jarak tanam 20 x 25 cm atau 20 x 30 cm. Bibit asal biji yang sudah disiapkan maupun tunas anakan bisa ditanam dengan cara dipendam. Buat lubang kecil, masukkan bibit ke dalamnya dalam posisi tegak lurus. Tutupi dengan tanah. Tekan sedikit tanah di sekeliling batang agar sedikit padat. Selesai ditanam basahi tanah dengan penyiraman. Saat musim hujan cocok melakukan penanaman bawang daun karena sayur ini toleran terhadap curah hujan tinggi. Awal musim penghujan atau awal musim kemarau juga tak jadi masalah yang  penting di musim kemarau ada air untuk menyiramnya.

Pemeliharaan tanaman bawang daun ini yaitu dengan menyiangi gulma yang tumbuh di areal pertanaman sambil melakukan penyiangan lakukan pendangiran. Tanah digemburkan karena mungkin terjadi pemadatan akibat penyiraman air dan proses pengeringan oleh sinar matahari. Bila terlihat tanah kekurangan air maka perlu dilakukan penyiraman. Lakukan penyiraman hingga tanah di sekitar pertanaman cukup basah dan merata. Selain langkah pemeliharaan di atas kita perlu pula menimbun bagian bawah batang. Naikkan tanah di sekitar batang agar pangkalnya tertutup. Penimbunan memberikan wama putih pada batang bagian bawah sehingga memberikan penampilan yang menarik dan kualitas yang prima. Selanjutnya dengan pemberian pupuk secara teratur, pupuk diberikan di dalam larikan 5 cm di kiri dan kanan batang. Dibawah ini beberapa foto hama yang menyerang daun bawang namu masih ada hama yang belun ditemukan dan bisa diambil fotonya.

Semua makhluk hidup memiliki indra atau alat untuk menerima rangsang yang sama. Begitu juga pada serangga. Seperti halnya pada makhluk hidup lain, serangga mempunyai  mata. Mata pada serangga digunakan untuk menerima rangsang dari cahaya. Mata pada serangga di bagi menjadi beberapa bagian, yaitu mata tunggal atau oseli dan mata faset atau omatidia. Mata tunggal pada serangga mempunyai lensa kornea yang tunggal, sedangkan mata majemuk merupakan kumpulan dari mata tunggal yang dilapisi oleh lensa kornea segi enam. Serangga mempunyai dua buah mata majemuk dan tiga buah mata tunggal. Mata tunggal berfungsi untuk membeda-bedakan intensitas cahaya yang diterima sedangkan mata majemuk berfungsi sebagai pembentuk bayangan yang mozaik.

Walaupun serangga mempunyai mata yang cukup kompleks dan banyak, ada sejumlah serangga yang buta warna, yaitu tidak dapat membedakan warna.  Namun tidak sedikit pula yang dapat membedakan warna. Serangga dapat membedakan warna karena adanya perbedaan pada sel-sel retina pada mata serangga.  Serangga sangat menyukai warna-warna yang terang, seperti kuning.

Untuk mengetahui bagaimana perbedaan preferensi warna serangga, digunkanlah trap. Trap ini dilakukan dengan memasang berbagai macam warna yang sekiranya dapat menarik serangga. Dengan adanya trap ini kita akan mengetahui warna apa yang disukai oleh serangga dan dapatkah serangga membedakan warna-warna pada trap ini.

Pada umumnya penyakit yang menyerang pertanaman padi di Indonesia adalah sangat beragam, Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae merupakan patogen penyebab penyakit hawar daun bakteri (HDB). Patogen ini awalnya dikenal dengan nama Xanthomonas campestris pv. oryzae. Hawar daun bakteri pada tanaman padi dapat diawali dari benih padi yang telah terinfeksi X. oryzae pv. oryzae. Selain itu, X. oryzae pv. oryzae juga dapat menginfeksi tanaman padi yang tidak terserang melalui stomata, hydatoda, dan luka (Huang and De Cleene, 1989). Setelah patogen masuk ke tanaman inang, patogen masuk ke jaringan vaskular khususnya xilem, di xilem patogen memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh bagian tanaman yang menyebabkan infeksi yang bersifat sistemik (Gnanamanickam, 2009).

Penyakit hawar daun bakteri pada padi bersifat sistemik dan dapat menyerang tanaman pada berbagai tingkat pertumbuhan. Bakteri ini terutama terdapat dalam berkas-berkas pembuluh (Semangun, 2004). Gejala penyakit dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman dewasa yang peka, gejala hawar, dan daun kuning pucat (Balitbang Tanaman Pangan, 1991).

Bakteri X. oryzae pv. oryzae muncul dan tetap bertahan karena bakteri ini dapat hidup pada gulma tertentu, dalam jerami tanaman yang terinfeksi, dan akar tanaman yang terinfeksi yang dapat menjadi sumber inokulum patogen. Demikian juga dengan saluran irigasi pada lahan sawah yang terinfeksi akan menjadi media penyebaran patogen ke lahan sawah yang lain (Suparyono et al., 2003). Bakteri ini juga dapat tinggal dalam biji sampai beberapa saat sehingga penularan penyakit melalui benih dapat terjadi (Sutakaria, 1984).

Bakteri X. oryzae pv. oryzae menginfeksi melalui luka-luka pada daun akibat dipotongnya daun sebelum dipindah tanam untuk mengurangi respirasi. Bakteri ini juga dapat menginfeksi melalui luka-luka pada akar sebagai akibat pencabutan saat pindah tanam (Semangun, 2004). Mekanisme kerusakan pada daun yang diakibatkan X. oryzae pv. oryzae diawali dengan masuknya inokulum patogen melalui bagian daun yang luka, membukanya hidatoda atau stomata pada daun. Kemudian patogen memperbanyak diri di epidermis daun.

Ketika jumlah patogen telah banyak, maka patogen menyerang sistem vaskular dan ooze keluar dari stomata (Suparyono et al., 2003). Gambar 1 menunjukkan tetesan eksudat (ooze) bakteri X. oryzae pv. oryzae yang dapat diamati pada pagi hari.

Gejala-gejala serangan hawar daun bakteri diawali dengan bercak bergaris kekuning-kuningan pada daun yang memanjang dan melebar, warna lanjut bagian daun yang terserang akan menjadi putih keabu-abuan. kemudian daun cenderung kering dengan cepat, bagian daun yang telah terserang dan kering akan ditumbuhi jamur saprofit.

kresek dapat teramati pada 1-3 minggu setelah pindah tanam, pada bagian daun yang terluka akan berlendir, daun layu dan berwarna hijau keabu-abuan, pada tahap akhir, daun yang terserang akan mengering dan berwarna kuning keabua-abuan seperti daun tua (Suparyono et al., 2003). Pengendalian HDB dapat dilakukan dengan aplikasi pestisida kimia. Pengendalian secara kimia sebaiknya efektif pada konsentrasi rendah, mudah untuk ditranslokasikan dalam jaringan tanaman, dan bersifat selektif serta aman bagi lingkungan (Devadath, 1989).

Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah metode postulat koch. Postulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada 1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi untuk menentukan hubungan sebab-musabab antara parasit dan penyakit. Ia menerapkannyauntuk untuk menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya telah dierapkan pada penyakit lain. (Wikipedia).

Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Walaupun dalam masa Koch, dikenal beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidak memenuhi semua postulatnya. Usaha untuk menjalankan postulat Koch semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Pada masa itu virus belum dapat dilihan atau diisolasi dalam kultur. Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhi semua isi postulat. Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat.